
JAKARTA, 30 Agustus 2026 - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan layanan BRT maupun non-BRT, memperluas integrasi antarmoda, serta meningkatkan aksesibilitas publik. Langkah strategis ini dilakukan guna menghadirkan layanan transportasi perkotaan yang semakin terhubung, andal, aman, dan ramah lingkungan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Operasional dan Keselamatan Transjakarta, Mohamad Deddy Gamawan (Dega), saat menjadi narasumber dalam Teras Urban Talkshow bertajuk “Advancing Sustainable Urban Mobility: Menelaah Peran BRT dan Non-BRT dalam Mendorong Mobilitas Perkotaan Berkelanjutan” di University Club Jakarta, Minggu (30/8).
Dalam pemaparannya, Dega menekankan bahwa pengembangan transportasi publik di Jakarta tidak sekadar berfokus pada perluasan jangkauan, tetapi juga pada konektivitas antarlayanan demi kenyamanan mobilitas warga.
“Transjakarta terus berupaya menghadirkan layanan yang mampu menjangkau lebih banyak wilayah sekaligus mempermudah perjalanan masyarakat melalui integrasi antarmoda. Dengan jaringan yang saling terhubung, saat ini coverage area Transjakarta sudah mencapai 92% area DKI Jakarta. Masyarakat dapat menikmati moda transportasi publik yang lebih praktis, nyaman, dan efisien,” ujar Dega.
Hingga saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 240 rute yang mencakup layanan BRT, feeder, Mikrotrans, Transjabodetabek, bus ke hunian rusun, Royaltrans, hingga layanan khusus lainnya. Penguatan jaringan ini dirancang untuk memaksimalkan konsep first-and-lastmile connectivity, memastikan perjalanan penumpang terakomodasi dari titik awal hingga destinasi akhir.
Realisasi integrasi fisik dan rute tersebut kini telah terhubung secara strategis di berbagai simpul transportasi, antara lain:
- Stasiun MRT Jakarta: Bundaran HI, ASEAN, dan Lebak Bulus.
- Stasiun LRT Jabodebek: Setia Budi, Rasuna Said, Cikoko, Cawang, Ciliwung, dan Kuningan.
Selain integrasi fisik, masyarakat juga diuntungkan oleh integrasi tarif lintas moda dengan batas maksimum (plafon) Rp10.000 untuk durasi perjalanan hingga 180 menit. “Integrasi bukan sebatas keterhubungan halte atau rute, melainkan juga kemudahan perpindahan penumpang antar-moda. Oleh karena itu, penguatan integrasi fisik, keterhubungan rute, dan keterjangkauan tarif menjadi prioritas utama pengembangan Transjakarta,” tambah Dega.
Akselerasi Bus Listrik Menuju Bebas Emisi
Sejalan dengan integrasi layanan, Transjakarta bertransisi menuju ekosistem transportasi rendah emisi melalui percepatan elektrifikasi armada. Langkah ini mendukung target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan 50% angkutan umum bebas polusi pada 2027 dan mencapai 100% pada 2030.
“Untuk mencapai target tersebut, kami menerapkan strategi peremajaan armada, pengadaan bus listrik baru, serta program retrofit. Pada tahun 2030, sebanyak 96% kontrak operator eksisting ditargetkan telah bertransformasi menggunakan kendaraan listrik,” jelas Dega.
Dengan penambahan berkelanjutan tersebut, Transjakarta kini telah mengoperasikan total 500 unit bus listrik di seluruh jaringan layanannya.
